Malu Tidak Berbudaya-Malu

Disaat Spanyol, Belanda, Afrika Selatan hingga Selandia Baru mendulang prestasi pada piala dunia kali ini, Indonesia justru makin terpuruk ke peringkat 136. Banyak teori dan spekulasi yang muncul untuk memperbaiki prestasi sepakbola tanah air.  Saya tertarik dengan ulasan salah satu komentator sepakbola pada Final Piala dunia lalu mengenai pengaruh kinerja PSSI terhadap prestasi timnas Indonesia. Boleh dibilang dunia persepakbolaan kita adalah yang paling aneh didunia karena sebuah organisasi sepakbola nasional bisa dikendalikan oleh seorang narapidana yang sedang aktif menjalani hukuman di penjara. Lantas bagaimana seorang nahkoda kapal bisa memberi komando terhadap awak kapalnya sementara dia tidak ada di lapangan? Ya, seperti yang sudah kita prediksikan, anggaran tetap jalan tapi prestasi nol. Terlalu spekulatif jika saya membuat tulisan ini untuk menganalisis motivasi NH karena sayapun tidak mempunyai bukti yang kuat. Namun yang menarik adalah fenomena mental kulit badak, alias tidak tahu malu yang terlihat pada pejabat kita.

Apa yang terjadi di Indonesia sangat bertentangan dengan yang terjadi di belahan dunia lainnya. Di Jepang, Perdana Menteri Hatoyama yang baru menjabat 8 bulan mundur karena 2 alasan utama, yakni karena tidak berhasil memindahkan pangkalan militer AS dari Okinawa dan tuduhan skandal penyelewengan dana politik oleh bawahannya. Popularitas Hitoyama yang sempat naikpun menjadi turun drastis karena ia tidak berhasil memenuhi janji kampanyenya. Namun ternyata efek dari lengsernya PM memberikan dampak positif terhadap perekonomian Asia.  Di ajang Piala Dunia 2010 kita juga mengenal legenda sepakbola Diego Maradona yang memutuskan mundur dari kursi pelatih setelah timnas Argentina dipermalukan 4-0 dari Jerman. Begitu juga dengan pelatih Korsel, AS, Jepang dan Argentina yang berniat mundur meskipun sebenarnya prestasinya tidak terlalu buruk. Bahkan pelatih timnas Spanyol yang menjadi juara kali ini, sebelumnya sempat dikabarkan akan mengundurkan diri sesaat setelah timnya kalah tipis pada babak penyisihan.

Satu hal yang membuat saya terkesan adalah pengakuan dari seorang pelatih timnas Korea Selatan yang dengan besar hati mengatakan

Banyak sekali orang yang hebat dan mampu menjadi pemimpin di komunitas sepakbola kami. Saya rasa mereka pantas mendapat kesempatan untuk menangani tim nasional.

Bagaimana dengan manajemen sepakbola Indonesia?

Budaya Malu

Itulah jawabannya. Budaya malu yang berasal dari Jepang menginspirasi saya untuk menulis tentang fenomena mental kulit badak di manajemen kepelatihan PSSI. Di Jepang, konon budaya malu berasal dari ajaran confusianisme dari China. Inti dari ajaran ini adalah bagaimana bersikap tahu diri dan menghargai orang lain. Mereka yang tidak memiliki tata-krama “rinri” ini akan dinilai memiliki kualitas minimal oleh masyarakat sekitarnya, sehingga mereka memiliki beban psikologis dan rela melakukan bunuh diri demi sebuah kehormatan jika mereka tidak berhasil menunaikan tugasnya.

Lain tempat lain budaya. Begitu pula yang terjadi pada perbedaan budaya masyarakat barat dan masyarakat timur dalam menyikapi masalah. Jika di Jepang kita mengenal budaya malu (shame culture), maka di benua eropa dan amerika kita mengenal budaya bersalah (guilt culture). Apa yang dimaksud dengan budaya bersalah dan budaya malu? Lalu budaya seperti apa yang berkembang di Indonesia? Berikut ini adalah pendekatan orang awam ala sarjana teknik, berhubung latarbelakang saya bukan dari ilmu sosial.

Berikut ini adalah sebuah model untuk memudahkan kita dalam memahami perbedaan guilty culture vs shame culture yang dibuat oleh seorang pakar Atherton J S  (perhatikan warnanya):

Setiap interaksi selalu terdiri atas 2 aspek yakni saya (kolom biru) dan manusia sekitar (kolom coklat) di lingkungan sekitar.

Cara membacanya seperti ini :

baris 1 : jika saya percaya bahwa saya tidak melakukannya dan masyarakat juga percaya, maka tidak ada masalah. Artinya semua berjalan sebagaimana mestinya.

baris 2 : jika saya tidak melakukannya dan masyarakat percaya, juga tidak ada masalah. Masalah baru muncul jika saya tidak melakukannya namun masyarakat percaya bahwa saya telah melakukannya, sehingga saya akan protes dan membela diri. Model ini sangat umum kita temui dalam film-film hollywood dimana seorang yang dituduh bersalah tidak akan mundur dan cenderung membela diri hingga terbukti kesalahannya.

Letak perbedaan yang mendasar antara guilt culture dan shame culture ada pada baris 2 dimana saya tidak melakukannya tapi masyarakat percaya bahwa saya telah melakukannya sehingga saya merasa malu dan tidak berharga menurut norma-norma. Falsafah inilah yang mungkin terjadi pada kejadian mundurnya perdana mentri jepang dan beberapa pelatih timnas Piala Dunia 2010. Masyarakat jepang memiliki rasa malu dan tidak berharga jika mereka melanggar norma-norma yang ada sehingga mereka dengan besar hati akan mundur dari jabatan karena beban psikologis atas kegagalannya. Model ini dapat direpresentasikan pada kasus penarikan 8 juta mobil Toyota dari seluruh dunia karena ada kesalahan teknis. Meskipun menuai banyak kritik akibat dari penarikan besar-besaran ini dan resiko kehilangan nama besar di dunia otomotif, pihak manajemen Toyota tetap bersikukuh untuk memperbaiki setiap kegagalan pada produk mereka.

Keadaan yang sangat berbeda justru terjadi di Indonesia. Khusus untuk kasus ketum PSSI yang tidak mau dipaksa mundur dr jabatannya, saya sendiri belum menemukan model yang cocok. Menurut guilty culture, seseorang tidak akan mundur kecuali sudah terbukti bersalah sementara menurut shame culture, seseorang dengan kesadaran akan mengajukan pengunduran diri karena didorong rasa malu meskipun belum terbukti bersalah. Nah, untuk kasus ketum PSSI disini sudah jelas terbukti bersalah tapi masih bersikukuh tidak ingin mundur. Idealnya, menurut teori guilty culture dan shame culture diatas maka seharusnya NH sudah mundur sejak hari pertama masuk penjara, namun kenyataannya tidak. Artinya kita sudah kehilangan kedua jenis budaya tersebut atau jangan-jangan kita sudah tidak berbudaya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s