Say Yes To Pluralism!

Menjelang perempat final hingga babak final minggu depan akan ada satu bagian di awal pertandingan dimana semua pemain berkumpul dan mengangkat sebuah spanduk yang sama yang bertema say no to racism. Slogan ini menjadi begitu penting dalam sepakbola dunia sehingga selalu diangkat setiap kali ada momen penting seperti final piala dunia dan final liga champion. Jika kita mundur kebelakang ternyata kampanye ini dimulai pada pertengahan tahun 2007 dimana FIFA secara khusus mengadakan Mandela Match untuk kampanye melawan aksi rasisme. Hal ini mengingatkan kita bahwa pertandingan sepakbola dunia bukan lagi sekedar permainan tapi sudah menjadi media kampanye yang sangat efektif untuk mengangkat isu-isu global seperti rasisme, terorisme hingga masalah energi dan lingkungan.

Rasisme. Ya, dari tahun ke tahun sejak kasus rasisme selalu diangkat dalam pertandingan penting sepakbola seperti liga champion, liga eropa dan piala dunia. Puncaknya adalah ketika samuel eto’o seorang pesepakbola asal kameroon yang keluar dari lapangan ditengah-tengah pertandingan karena ulah beberapa supporter yang melemparkan kulit pisang sesaat setelah eto’o mencetak gol ke gawang Real Betis pada tahun 2006 silam. Isu-isu universal seperti ini memang layak untuk dibawa ke tengah forum internasional dan sepakbola dipilih sebagai metode yang ampuh untuk kampanye anti rasisme karena hanya dalam sebuah pertandingan sepakbola semua orang dapat berdiri sejajar. Tidak peduli siapa anda dan apa warna kulit anda, hanya mereka yang menjadi pemenang yang bisa berjalan dengan tegak seusai pertandingan.

Gaung isu rasisme di Indonesia memang tidak sekuat dinegara-negara Eropa Barat dan Amerika namun ada satu isu besar yang selalu menjadi pergunjingan masyarakat Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, yaitu isu pluralisme. Jika kita melihat beberapa kejadian dimana hak-hak rakyat minoritas dirampas dengan mengatasnamakan ideologi dan agama, sesungguhnya bangsa kita tidak lebih baik dari prilaku rasisme di negara-negara Eropa. Kita tentu masih ingat dengan peristiwa pembubaran kongres kaum gay-lesbian, penutupan paksa tempat hiburan dan kasus pembubaran acara sosialisasi kesehatan yang dituduh sebagai acara temu kangen alumni PKI oleh sebuah ormas. Runtutan kejadian tersebut mengindikasikan bahwa Indonesia tidak seperti dulu yang saya dengar dibangku SD dimana setiap warganya sangat ramah dan dikenal sebagai masyarakat yang sangat toleran terhadap perbedaaan budaya dan agama. Sulit dipungkiri bahwa saat ini Indonesia tidak lagi ramah terhadap pluralisme. Pemahaman apa yang baik dan benar menurut sekelompok orang dapat menjadi legalisasi untuk menghakimi dan menolak perbedaan.

Terinspirasi oleh insiatif FIFA mengangkat isu rasisme melalui sepakbola membuat saya berpikir bahwa metode yang sama dapat digunakan untuk mengangkat isu pluralisme ini ke permukaan. Isu SARA adalah isu yang sangat sensitif sehingga wajar saja organisasi manapun enggan mengangkat masalah ini. Namun jika kita mau belajar dari fenomena rasisme di Eropa, bukan tidak mungkin kita juga dapat memerangi isu yang sama melalui semangat olahraga seperti sepakbola dan badminton. Alangkah indahnya jika dunia melihat kita bersama-sama berkumpul mengangkat spanduk bertuliskan say yes to pluralism pada pembukaan kompetisi badminton dunia; Indonesia Open dan pertandingan final Liga Indonesia. Mari kita tunjukkan pada dunia bahwa bangsa Indonesia cinta damai dan taat pada konstitusi.

2 thoughts on “Say Yes To Pluralism!

    • Amin.. semoga kita bisa menjadi raja di tanah sendiri hehehe. Judulnya Indonesia open tp tahun ini ga bawa piala satupun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s