Pendidikan tinggi bukan hanya milik si kaya dan si pintar 3.00

Memang tidak pernah ada habisnya kalau kita membicarakan bobroknya sistem pendidikan di Indonesia. Berawal dari iseng dan rasa ingin tahu tentang  biaya pendidikan kuliah S2 di PTN (Perguruan Tinggi Negeri), saya kaget sekaligus pesimis tentang masa depan pendidikan tinggi di Indonesia. Dengan biaya kuliah yang sedemikian mahal di Indonesia, melalui tulisan ini saya ingin membuka mata calon/mahasiswa baru untuk tetap semangat dan mencari jalan untuk mencapai cita-cita kita.

Tidak semua orang beruntung dapat mengecap pendidikan tinggi hingga mendapat gelar master atau doktorat.  Pasalnya pendidikan tinggi di Indonesia terasa sangat mahal untuk sebagian besar mahasiswa di Indonesia. Betapa tidak, setiap tahunnya untuk kuliah S2 di ITB yang berstatus sebagai PTN BHMN saja kita harus mengocek kantong dalam-dalam.  Sebagai gambaran, untuk mengeyam kuliah S2 Planologi ITB setidaknya kita harus menyediakan 30 juta per 3 semester  untuk kelas reguler atau 40 juta per 2 semester  untuk kelas international double degree. Belum lagi ditambah biaya kuliah dan biaya hidup untuk tahun kedua (di kampus partner di luar negeri) khusus untuk kelas international double degree. Tampaknya nasib kuliah di kampus PTN lainnya seperti UI dan UGM juga tidak lebih baik dari ITB jika melihat besarnya biaya kuliah program sarjana yang mencapai sedikitnya 25.000.000 untuk program reguler dan nyaris 9000 euro untuk program International double degree.

Meskipun beasiswa yang disediakan juga cukup banyak, namun jumlahnya tidak sebanding dengan permintaan. Hal inilah yang seringkali mengurungkan niat banyak calon mahasiswa untuk mendaftar kuliah ke PTN, sehingga alih-alih sekolah mereka lebih cenderung memilih langsung menjadi pekerja dengan skill seadanya. Jangankan untuk kuliah S2, melihat biaya pendaftaran kuliah S1 yang mencapai jutaan rupiah saja rasanya sudah cukup menghancurkan mental berjuang anak-anak kita.

Banyak orang yang berkata bahwa untuk menggerakkan perekonomian Indonesia kita tidak membutuhkan orang-orang cerdas yang berpendidikan tinggi, sebaliknya kita membutuhkan orang-orang yang berdedikasi terhadap dunia kewirausahaan. Pemikiran seperti ini dapat terima, namun hendaknya kita lebih bijak dalam memahami pendidikan sebagai salah satu bentuk investasi jangka panjang.  Saya tidak mengatakan bahwa pola pikir kewirausahaan praktis seperti Bob Sadino adalah salah, namun sebaliknya saya berpikir bahwa semakin spesifik pengetahuan yang kita miliki maka kita dapat mewujudkan bisnis kita dengan lebih efisien dan lebih menguntungkan. Oleh karena itu dipandang dari sudut pandang kewirausahaanpun sebenarnya pendidikan tinggi bukanlah proses yang sia-sia tapi juga dapat dipandang sebagai aset yang tak terbilang (intangible asset).

Untuk kebanyakan orang Indonesia, masalah finansial adalah masalah utama yang paling sering dijadikan alasan untuk berhenti sekolah. Ya, memang kuliah itu tidak murah tapi untuk mahasiswa yang beruntung dan berprestasi tersedia beberapa program beasiswa didalam negeri. Sedangkan untuk kuliah di luar negeri, institusi seperti Chevening Awards (UK), DAAD (German), BGF (Perancis) juga menyediakan beasiswa level master dan doktorat. Masalahnya adalah beasiswa ini sangat kompetitif dan hanya segelintir orang yang beruntung saja yang dapat menikmati jenis beasiswa ini. Tidak sedikit saya temukan banyak mahasiswa yang sangat termotivasi dengan prestasi rata-rata namun tersandung oleh persyaratan administrasi seperti TOEFL score, GPA 3.00 dan kurang hoki. Lantas bagaimana dengan mereka yang masih berjuang kuliah  S2 namun tetap tidak memiliki dana ?

Mungkin sebagian diantara kita sudah pernah mendengar istilah student loan. Student loan sangat populer di Amerika, Inggris, negara Skandinavia, Australia, Singapura dan Kanada. Tercatat lebih dari 250.000 orang mahasiswa asal Amerika menggunakan fasilitas ini untuk kuliah di Eropa pada tahun 2009. Sebaliknya, India mengirimkan lebih dari 80.000 orang per tahunnya untuk kuliah S1 dan S2 di Amerika. Begitu juga di Singapore, mayoritas dari penduduknya menggunakan fasilitas student loan sebagai sumber pembiayaan pendidikan mereka.

Ironisnya, negara Indonesia yang mayoritas penduduknya masih dibawah garis kemiskinan justru harus dihadapkan dengan mahalnya biaya kuliah dan alternatif pembiayaan yang sangat minim. Setelah mencari sekian lama melalui internet saya hanya menemukan satu lembaga (mungkin hanya satu-satunya) yang menyediakan fasilitas ini, yakni Sampoerna Foundation. Akses student loan ini pun hanya terbatas di kampus-kampus PTN tertentu.

Berhutang tidak selalu buruk. Pandangan skeptis tentang hutang hendaknya ditujukan pada hutang yang bersifat konsumtif seperti cicilan motor, mobil dan barang elektronik karena nilai mereka tidak bertambah seiring dengan waktu. Sebaliknya, berhutang untuk pendidikan bukanlah hal yg buruk karena pendidikan adalah salah satu bentuk investasi yang bersifat produktif dimasa mendatang.

Menurut pandangan saya, student loan lebih memberikan banyak benefit bagi semua pihak (mahasiswa, bank dan pemerintah) dibandingkan dengan sistem penggratisan biaya kuliah. Disini peran pemerintah sangat vital untuk mengatur sistem agar tidak memberatkan mahasiswanya. Disatu sisi, mahasiswa diberi keringanan untuk membiayai kuliah dan tidak pusing memikirkan pengembalian pinjaman selama masa studi. Disisi lain, perusahaan mendapatkan keuntungan atas bunga yang dibebankan setelah masa studi selesai. Memang bunganya tidak sebesar pinjaman komersial namun jika dihitung dengan potensi nasabah yang besar maka bank akan mendapatkan keuntungan yang cukup signifikan.

Pada akhirnya dengan tidak memberikan pendidikan secara gratis namun lebih berfokus pada subsidi pendidikan secara parsial oleh pemerintah, kita juga membangun kesadaran dan rasa bertanggung jawab atas biaya pendidikan terhadap anak didik kita.

6 thoughts on “Pendidikan tinggi bukan hanya milik si kaya dan si pintar 3.00

    • Betul. Tapi rasanya gak adil kalo mengatakan bahwa orang yang terhambat sekolahnya karena mereka tidak mau berusaha. Masalahnya di Indonesia bukan lagi tentang semangat belajar. Coba deh tanya sama kuli2 ato pedagang asongan yang masih muda, mereka pengen sekolah andaikan ada solusi pembiayaan. Kalo udah begini tanggung jawab siapa ?
      Eh, mbak Trias kok bisa tau gw publish blog baru? Ajarin donk caranya supaya ada “blog friends” kaya di blog mbak gimana ?

      • Nah maksud dari usaha itu ya termasuk usaha mencari uang untuk membiayai sekolah Chi.. Bukan hanya semangat saja, kalau ada semangat tapi ga berusaha nyari dana pembiayaan kan percuma tho hehe…

        Gampang itu, buka dasboard, nah cari tuh tulisan link. Pilih Add new, trus tulis nama blognya di kotak Name. Kemudian tulis alamat blognya di web Adress. biasanya ada tulisan blogroll, kalau ga suka pakai itu, kamu klik Add new catagory, ganti aja dengan nama blog friend atau yg lainnya.. klik di blog roll atau nama yg km buat sendiri. udah gitu klik add link. Beres deh..Jangan lupa munculin di home blogroll ya, biar terlihat blog teman2mu🙂

    • Il faut que notre gouvernement le subventionne! Sebenernya jauh lebih mudah menjawab pertanyaan lo kalo gw adalah pemerintah hehe..
      Kebetulan ini cerita nyata gw ron, jadi yang bisa gw lakukan adalah :

      1. Proaktif cari beasiswa yang persyaratan administrasinya lebih longgar ke kampus, yayasan independen, himpunan pengusaha etc
      2. Coba tawarkan proposal sponsorhip ke perusahaan yang kira-kira memperoleh benefit dari hasil study kita
      3. Mengajukan student loan di negara yang kita tuju, jika memungkinkan
      4. Kumpulin daftar orang-orang kaya, terus kirim email ke mereka. Siapa tahu anda beruntung. Terakhir kali gw ngirim email ke bill gates, mereka bilang bahwa bidang studi gw diluar program mereka (bukan ga mungkin, dia akan membantu kan?). Sebaliknya, gw dibales dengan informasi berharga berisi database beasiswa seluruh dunia.
      4. Kalau masih buntu juga, cari alternatif negara lain atau kampus lain yang kira-kira memungkinkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s