Who want to be a pioneer of nanotech company in Indonesia ?

Seandainya pertanyaan diatas diajukan didalam kelas kuliah Teknik Material ITB , pasti aku bakal tunjuk tangan. Tapi pertanyaan itu ga pernah muncul, dan mungkin ga akan muncul hingga 10 tahun mendatang. Masalahnya sistem perkuliahan dan bobot mata kuliah yang ada sekarang ini kurang menaruh perhatian pada semangat entrepreneurship.  Silahkan cari, ada berapa sks dalam kurikulum di jurusan anda tentang entrepreunership. Rasanya semua itu cuma angan-angan belaka karena kaum akademisi sekalipun belum mendidik mahasiswa ke arah sana, meskipun tak jarang dari dosen-dosen ITB yang memiliki perusahaannya sendiri.

Bicara tentang technopreuner, rasanya kita harus masukkan nanotechnology sebagai bidang bisnis yang paling menjanjikan di masa mendatang selain bidang information technology. Dilihat dari segi profit, kompetisi dan pasar, bisnis dibidang ini sangat menjanjikan karena tidak banyak orang yang berkecimpung di bidang ini. Sayangnya modal start up yang dibutuhkan untuk R&D (penelitian) memang sangat besar, meskipun profit yang kita dapatkan juga sangat besar. Mungkin ini salah satu hambatan yang sering dialami para akademisi dan peneliti sehingga mereka enggan melanjutkan penelitiannya ke tahap komersialisasi. Selain itu perhatian pemerintah terhadap bidang ini juga masih sangat kurang jika dibandingkan dengan negara tetangga kita Malaysia dan Singapore.

Bayangkan apa yang akan terjadi kalau sistem pendidikan kita tidak menaruh perhatian pada entrepreunership dalam 10 tahun mendatang. Mengutip dari pidato Ciputra yang mengatakan bahwa Indonesia  membutuhkan setidaknya 4.4 juta wirausahawan untuk dapat bersaing dengan negara tetangga kita.  Singapore dengan segala keterbatasan sumber daya alamnya mampu bangkit jadi salah satu pusat perdagangan Asia karena mereka menyadari pentingnya kombinasi antara penguasaan teknologi dan entrepreunership. Sudah saatnya pemerintah juga turut mendukung semangat wirausaha teknokrat2 kita dengan memberikan dana yang cukup.

Menjadi entrepreuner udah jadi mimpi ku dari dulu, tp seperti kebanyakan orang, aku selalu bingung setiap kali harus berpikir utk memulai darimana. Aku udah baca begitu banyak buku tentang kesuksesan orang-orang besar yang memulai bisnisnya dari nol. Mulai dari Bob Sadino dengan caranya yang sangat nyentrik, Bill Gates, Google guys, Donald Trumpt hingga Pemilik perusahan financial yang mengarang buku The Pursuit of “Happyness” Chris Gardner.

Dari sekian banyak buku yang aku baca, pada intinya mereka menyarankan kita untuk lebih berfokus pada tindakan, bukan hanya berpikir tentang bisnis. Merekapun mengakui bahwa memulai bisnis adalah langkah yang paling sulit sekaligus langkah yang paling menentukan. Anehnya, setelah diperhatikan ternyata mereka selalu memulai bisnisnya dengan cara mereka masing-masing. Tidak sepenuh benar jika seorang Bob Sadino menyarankan agar kita berhenti sekolah untuk memulai bisnis, karena sebaliknya Google guys justru mengawali kesuksesannya dari disertasi dan penelitian mereka selama bertahun-tahun. Tapi mereka memiliki kemiripan, yaitu mereka tidak pernah mengira akan kesuksesannya. Mereka selalu memulai dari niat yang tulus, yaitu membantu orang lain membuat hidup lebih mudah.

Orang-orang ini memberikan aku inspirasi untuk memulai bisnis dengan caraku sendiri. Hingga saat ini, ide bisnis yang terlintas dipikiranku hanya bisnis dibidang nanoteknologi. Nanoteknologi memang menawarkan segudang peluang untuk dikomersialisasikan, hanya saja kita membutuhkan latar belakang scientific yang cukup kuat dan modal awal penelitian yang tidak sedikit. Untungnya aku menemukan salah satu web yang membahas tentang entrepreneur di bidang nanoteknologi. Jadi tambah semangat !!!

Kutipan dibawah ini aku ambil dari blog seseorang tentang Nanotechnology and Entrepreuner Mind.

It is conventional wisdom that the emerging field of nanotechnology is complex and the field will not suffer from the rash of start-ups that the Dot.com era witnessed. While this is true, I noted that there was no reason to be intimidated by the field—or write it off just because you don’t have a PhD in physics, biology or the material sciences. There will be no shortage of entrepreneurial opportunities for those who understand how nanotechnology-enabled advances in the materials sciences, data storage, energy devices and a myriad of other products might soon be utilized by the masses.

My point was that tomorrow’s most successful entrepreneurs will not just be those people who actually start nanotechnology companies (my guess is that this number will be relatively small and will be limited to those with a deep base of scientific knowledge and/or access to a deep reservoir of financial capital which will be necessary to bring their product(s) to market), it will also be open to those individuals who understand how nanotech-enabled advances can be used to improve people’s everyday lives and enhance business operations.

Let me provide a few examples. Nanotechnology is driving a revolution in material sciences. Nano-Tex’s stain-resistant pants are often held up as a model example for how nanotechnology can revive an industry—the textile industry—that was long given up as outdated and uncompetitive. The question the entrepreneur has to ask is this: Are there new business opportunities that could emerge from this revolution? For instance, if cloths are now lasting longer—and staying cleaner—are there additional business opportunities to rent clothing—or other products—coated with nanofibers? Similarly, as other nanotech companies manufacture lighter, stronger, and more dent and scratch resistant materials, what new opportunities could emerge? If self-cleaning or energy-enhanced windows become more prevalent, how can the engaging entrepreneur harness these properties to improve a company’s—and thus his or her own—bottom line.

The advances nanotechnology is enabling in data storage arena offer similar entrepreneurial opportunities. To illustrate my point, I offer the example of Reed Hastings, the founder of NetFlix. He didn’t invent DVD technology. He was simply among the first to recognize that eventually DVD technology would get so inexpensive that he reproduce and send out DVDs in the mail and allow customers to keep them for an indefinite period of time. In so doing, he successfully challenged the entire video rental industry.

Will similar opportunities emerge in the future? Yes, and it is going to be the entrepreneur—not necessarily the developer of the technology—who gets rich in the process.

Another area, I am personally excited about are the advances being made in flexible solar cell technology. Konarka is reportedly working with the U.S. Army to embed solar fabrics directly into the uniforms of our soldiers. The purpose is to help our fighting men and women reduce the number—and weight—of batteries they must carry. Solar fabric, by allowing them to essentially recharge their computers and other electronic equipment from their clothing, will do this. The technology will undoubtedly be beneficial for our soldiers, but is there also a successful business lurking in the technology? Yes. I don’t necessarily know what that business will be, but if people can recharge their cell phones, laptops, and IPods from their clothing, my guess is that the entrepreneurial mind can think of some exciting possibilities.

To do so, however, the entrepreneur must first understand where nanotechnology is pushing a variety of technologies. By doing so, they can get out ahead of the herd and capture these opportunities before they become obvious to everyone else.

7 thoughts on “Who want to be a pioneer of nanotech company in Indonesia ?

  1. indonesia adalah negara kaya. tapi sayang mental inlander masih melekat erat. believe it or not. kita lebih suka dijajah asal ada jaminan kehidupan yang layak daripada harus bersusah payah memperjuangkan apa yg memang “benar2 layak” kita dapatkan kdepannya. semua orang tidak mau melarat. wajar. mungkin setelah mereka pikir kondisi sudah “aman” dan dapur sudah ngepul baru mereka brani untuk unjuk gigi alias mulai mikirin hal yg lebih luas lagi.

    • Wajar. Rasanya ga mungkin memikirkan kemajuan bangsa kalau perut masi lapar. Dulu memang kita masih tahap survival, tapi setelah lulus mereka justru ga berani untuk keluar dari comfort zone. Gw sendiri ga berani ngambil cara yang radikal seperti om Bob Sadino, yang mempertaruhkan nasibnya, keluar dari pekerjaannya di Unilever Belanda dan beralih jadi supir taksi di Kemang. Tapi justru disaat kita masi muda adalah saat yang tepat, disaat kita punya apa-apa untuk dipertaruhkan.
      But everyone has their own way..

  2. kapan mulai bergerak? kali lo bisa sedikit merubah perekonomian bangsa
    gw ga ngerti tentang nanotech, semoga rencana lo bisa bikin kehidupan bangsa lebih baik… bisa kasi lapangan kerja buat ribuan orang yang bakal terancam PHK di awal tahun ini

    • Wah bung hanna, saya ga berpikir untuk mengubah perekonomian Indonesia. Saya cuma bagian dari sistem, jd ga mungkin mengubah sistem. Tulisan ini cuma bentuk keprihatinan saya karena kita kurang aware sama nanotechnology. Secara pribadi sih, saya juga masih mikirin makan untuk besok..hehehe
      Nanotech = Nano technology artinya semua teknologi yang direkayasa pada skala nano, sepersemilyar meter. Kita sering kok menggunakan teknologi nano, tapi mungkin orang awam ga menyadarinya.

  3. knowledge is power…I agree with ur opinion.
    The one thing u should take a point is management…
    Bob Sadino, and others great people outside have consider about that key, management. U dont have high degree or Ph.D to achieve ur wish and/or dream. I think u should only know urself and know how and when using that desire capability mixed with management skill.

    • Contrary to Bob Sadino, I think education is essential to run your own business especially in hi-tech business.
      Education should not be associated to any degree such as master or PhD. I am going to publish my think-tank about nanotech in this week.
      Anyway, despite of his critical opinion to well-educated person in business, he was recognized as the most successful businessman in Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s