Berlomba-lomba menjual sertifikat profesi

Satu minggu yang lalu salah satu teman saya datang berkunjung setelah pulang dari pendidikan profesinya di bidang hukum. Saya teringat ketika dia mengatakan bahwa dengan mengambil program ini maka otomatis peluang untuk mendapatkan pekerjaan akan terbuka lebar. Tapi dia mengeluhkan sistem pendidikan berjenjang yang ia ambil karena pelatihan ini hanya satu langkah kecil dari beberapa level yang harus diambil untuk menjadi seorang lawyer yang “laku” di pasar. Pasalnya, biaya yang dikeluarkan untuk setiap levelnya sangat mahal untuk seorang pengangguran sementara pendidikan profesi wajib ditempuh untuk mendapatkan pengakuan. Setelah berdiskusi panjang lebar mengenai motivasi dan keuntungan memperoleh sertifikasi profesi, saya bertanya-tanya dalam hati mengenai esensi dari sertifikasi itu sendiri. Terlepas dari jenis profesi apapun yang kita geluti, kami berdua sepakat bahwa proses sertifikasi profesi adalah proses yang penting untuk standarisasi level keahlian mahasiswa yang baru saja lulus agar dapat langsung diserap oleh industri. Yang menarik, ternyata seiring dengan berjalannya waktu, sertifikasi tak ayal menjadi layaknya barang dagangan yang dijual untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Betapa tidak, kenyataannya hampir setiap pendidikan profesi sengaja dirancang menjadi semakin spesifik sehingga setiap mahasiswa fresh graduate harus merogoh kocek dalam-dalam untuk mengambil beberapa jenis sertifikasi profesi yang bertingkat-tingkat.

Sebagai contoh, untuk seorang lulusan teknik metalurgis, teknik mesin atau teknik sipil dari kampus ternamapun ternyata tidak serta merta laku di pasar tenaga kerja setelah lulus. Untuk bekerja di sebuah perusahaan minyak atau perusahaan konstruksi dan galangan kapal setidaknya kandidat harus memiliki setidaknya salah satu keahlian dari 35 sertifikasi internasional yang dikeluarkan oleh NACE yang rata-rata harganya diatas 1000 USD untuk setiap levelnya. Ditambah lagi dengan beragam program sertifikasi untuk pengelasan dari American Welding Society dan non destructive test (NDT) yang dikeluarkan oleh American Society for Non-destructive Test yang diadakan di BPPPPT bandung, dan program sertifikasi “harga lokal kualitas internasional” yang juga tumbuh subur di Indonesia (rata-rata diatas 5 juta rupiah). Lucunya, menurut beberapa teman saya yang sudah pernah mengikuti proses pelatihan diatas mengatakan bahwa hampir semua profil pengajar dan materi yang diajarkan sudah sudah tidak asing dibangku kuliah. Perbedaannya hanyalah pada kompentesi pengujinya yang biasanya berasal dari luar negeri dan pada bobot kerjanya yang lebih difokuskan pada praktik. Artinya jika kita berhasil lulus di perkuliahan dengan nilai yang baik dari dosen yang sama seharusnya kita tidak perlu mengikuti sertifikasi profesi untuk mendapatkan pengakuan di industri. Lalu mengapa harus ada ujian profesi berkali kali sementara kompetensi itu sebenarnya harus sudah tercakup sebagai syarat kelulusan? Yang lebih penting lagi adalah jika pendidikan ini menjadi esensial maka bagaimana menyiasatinya agar harganya tidak membebankan mahasiswa.

Profesi lain nasibnya tidak lebih baik. Sebut saja didunia pariwisata dan jasa, untuk menjadi seorang chef yang diakui secara nasional setidaknya para kandidat harus lulus tes kompetensi ICA (Indonesian Chef Association) atau tes sertifikasi oleh yang diadakan oleh ACF (American Culinary Federation), Le cordon bleu international untuk diakui secara internasional. Tidak hanya mahal dan memakan waktu, di Indonesia pendidikan seperti ini menjadi ganjil karena proses sertifikasi dibidang pariwisata justru tumbuh di kota-kota besar yang notabene nya bukan daerah pariwisata. Fenomena yang sama juga kita temui pada bidang IT dimana sertifikasi CCNA ala Cisco dan Microsoft saat ini menjadi tolok ukur perusahaan dalam menilai kompetensi calon karyawannya. Tak heran jika Saat ini banyak sekolah IT yang berlomba-lomba mempromosikan kampusnya dengan menggaet nama besar Cisco dan Microsoft guna meningkatkan pasaran kerja lulusannya dan tentu saja ada harga yang harus dibayar. Lantas bagaimana dengan nasib para lulusan yang memang cukup berprestasi di kelas tapi tidak memiliki dana untuk mengambil pendidikan profesi? Jika boleh saya jawab sendiri maka tidak ada nilai tambah bagi lulusan berprestasi sekalipun tanpa ditunjang oleh sertifikat profesi.

Bandingkan dengan sistem pendidikan S2  grandes ecoles di Perancis yang memiliki 2 pilihan untuk  menjadi seorang professional engineer (insinyur terapan) atau menjadi researcher (peneliti), dimana setiap mahasiswanya memang sudah diarahkan sedari awal untuk memiliki kompentensi yang spesifik di bidangnya sehingga proses belajar menjadi lebih efisien dalam hal waktu dan uang (mengingat semua kampus negeri disana disubsidi). Hal yang sama juga diadopsi oleh Stanford University yang menawarkan program sertifikasi keprofesian dalam bidang sustainable energy yang diadakan oleh pihak kampus dengan biaya yang sangat terjangkau yakni sekitar 195 USD.

Saya tidak mengerti mengapa sistem pendidikan profesi di Indonesia (profesi apapun itu) tidak diintegrasikan dalam kurikulum kuliah formal. Bukahkah idealnya seorang lulusan universitas diharapkan dapat lansung berdaya guna di masyarakat dan industri? Namun yang terjadi sekarang, sistem sertifikasi profesi yang berjenjang dan terpisah dari perkuliahan justru mengindikasikan bahwa pendidikan kita saat ini mismatch dengan industri. Sertifikasi profesi seolah-olah sengaja dirancang agar bertingkat-tingkat dan melegalkan badan pemberi lisensi untuk mendapatkan uang sebanyak-banyaknya dari para mahasiswanya dan industri merasa bahwa sertifikasi ini menjadi penting karena mereka tidak menemukan lulusan yang kompeten dibidangnya.

Lalu adilkah jika kita menyaring proses rekrutmen tenaga kerja fresh graduate berdasarkan selembar lisensi yang mahal itu ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s